Teks Biografi
Suwignyo
Suwignyo dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Ia lahir di Temanggung pada tanggal 15 Desember 1961. Dia merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Suwignyo dilahirkan dari pasangan Suprapto dan Mujirah.
Sejak kecil, Suwignyo sudah menyukai berbagai jenis olahraga, seperti sepak bola, bola voli, dan olahraga yang lainnya. Kedua orang tuanya sudah menyadari bakat sang anak. Namun, bakat Suwignyo tersebut tidak disalurkan sesuai dengan keinginannya.
Setalah berusia tujuh tahun,Suwignyo mendapatkan pendidikan formal dari Sekolah Dasar 1 Tuksongo.Disana ia mulai menekuni berbagai jenis olahraga. Karena kegemarannya terhadap berbagi jenis olahraga, ia sering ditunjuk untuk mewakili sekokahnya dalam kejuaraan olahraga. Pada saat itu, ia sering mendapatkan piala dan sertifikat kejuaraan.
Dengan setifikat kejuaraan yang ia dapatkan selama masih duduk di Sekokah Dasar, akhirnya ia dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebig tinggi. Suwignyo memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke SMPN 1 Temanggung. Di bangku SMP, ia juga menekuni olahraga sepak bola. Selain itu, ia juga sering mewakilk sekolahnya dalan kejuaraan olahraga. Namun, masuk ke kekas sembilan, ia sudah tidak lagi mewakili sekokahnya dakam kejuaraan olahraga karena ingin fokus belajar untuk menghadapi Ujian Nasional. Ia hanya sesekali saja bermain sepak bola. Kemudian tidak lama ia lulus dari SMP.
Setelah lulus dari SMPN 1 Temanggung, ia menginginkan bersekokah di SGO magelang, yang sekarang dikenal dengan SMAN 5 Magelang. Namun, keluarganya tidak memberi izin kepada Suwignyo untuk melanjutkan pendidikan di SGO Magelang karena jauh dari rumahnya yang sekarang. Alasan lain mengapa orang tuanya melarang Suwignyo malanjutkan pendidikan ke Magelang yaitu orang tuanya sangat khawatir apabila Suwignyo tidak ada yang memantau perkembangan dan perilakunya. Namun, Suwignyo tetap selalu memohon kepada Allah SWT supaya kedua orang tuanya mau memberikan izin kepadanya. Akhirnya kedua orang tuanya menginzinkan Suwignyo untuk melanjutkan pendidikannya ke SGO Magelang.
Di Magelang Suwignyo tinggal bersama tantenya yang berada di daerah Karet. Ia ingngin membuktikan dengan orang tuanya bahwa ia dapat hidup mandiri tanpa bergantung pada kedua orang tuanya. Dan tidak lama ia pun lulus dari SGO Magelang.
Setelah lulus dari SGO Magelang, Suwignyo kemabli ke rumah orang tuanya. Dan tidak lama ia langsung bekerja menjadi guru olahraga. Ia sangat bersyukur dengan pekerjaan yang ia tekuni saat itu. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik dan dengan sepenuh hati.
Pada tahun 1992 Suwignyo bertemu dengan tambatan hatinya yang bernama Laela Mucharomah. Setelag satu tahun mereka saling mengenal akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan langsung dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Risa Diah Palupi. Namun, mereka belum puas kerena hanya memiliki satu orang anak. Setelah enam tahun mereka menunggu, akhirnya mereka dikaruniai anak ke dua yang bernama Rani Wiboningrum.
Pada saat usia sang anak masih sangat kecil, Suwignyo memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Universitas Terbuka Semarang. Dan ia lulus pada tahun 2005. Di Universitas Terbuka Semarang ia hanya menempuh pendidika sampai D2. Karena tuntutan dari pekerjaannya ia pun melanjutkan pendidikannya ke UTP Sutakarta. Dan lulus pada tqhun 2010. Disana ia berhasil menyekesaikan pendidikan S1. Di UTP semarang ia berhasil menyusun sekripsi yang berjudul “ Hubungan Panjang Tungkai, Persepsi Kinestetik, dan Kelincahan Menendang Bola dalam Permainan Sepak Bola pada Siawa “.
Sudah sepantasnya kita sebagi generasi muda harus mencontoh semangat Suwignyo. Semangat dan kemaunyannya yang sagat besar telah mengantarnya menjadi orang yang berhasil dalam kehidupannya sekarang. Keberhasilan yang Suwignyo dapatkan saat ini merupakan hasil kerja kerasnya selama ini.
Semoga dengan apa yang telah dilakukannya, para generasi muda dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik lagi untuk masa depan yang lebih cerah.
Sejak kecil, Suwignyo sudah menyukai berbagai jenis olahraga, seperti sepak bola, bola voli, dan olahraga yang lainnya. Kedua orang tuanya sudah menyadari bakat sang anak. Namun, bakat Suwignyo tersebut tidak disalurkan sesuai dengan keinginannya.
Setalah berusia tujuh tahun,Suwignyo mendapatkan pendidikan formal dari Sekolah Dasar 1 Tuksongo.Disana ia mulai menekuni berbagai jenis olahraga. Karena kegemarannya terhadap berbagi jenis olahraga, ia sering ditunjuk untuk mewakili sekokahnya dalam kejuaraan olahraga. Pada saat itu, ia sering mendapatkan piala dan sertifikat kejuaraan.
Dengan setifikat kejuaraan yang ia dapatkan selama masih duduk di Sekokah Dasar, akhirnya ia dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebig tinggi. Suwignyo memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke SMPN 1 Temanggung. Di bangku SMP, ia juga menekuni olahraga sepak bola. Selain itu, ia juga sering mewakilk sekolahnya dalan kejuaraan olahraga. Namun, masuk ke kekas sembilan, ia sudah tidak lagi mewakili sekokahnya dakam kejuaraan olahraga karena ingin fokus belajar untuk menghadapi Ujian Nasional. Ia hanya sesekali saja bermain sepak bola. Kemudian tidak lama ia lulus dari SMP.
Setelah lulus dari SMPN 1 Temanggung, ia menginginkan bersekokah di SGO magelang, yang sekarang dikenal dengan SMAN 5 Magelang. Namun, keluarganya tidak memberi izin kepada Suwignyo untuk melanjutkan pendidikan di SGO Magelang karena jauh dari rumahnya yang sekarang. Alasan lain mengapa orang tuanya melarang Suwignyo malanjutkan pendidikan ke Magelang yaitu orang tuanya sangat khawatir apabila Suwignyo tidak ada yang memantau perkembangan dan perilakunya. Namun, Suwignyo tetap selalu memohon kepada Allah SWT supaya kedua orang tuanya mau memberikan izin kepadanya. Akhirnya kedua orang tuanya menginzinkan Suwignyo untuk melanjutkan pendidikannya ke SGO Magelang.
Di Magelang Suwignyo tinggal bersama tantenya yang berada di daerah Karet. Ia ingngin membuktikan dengan orang tuanya bahwa ia dapat hidup mandiri tanpa bergantung pada kedua orang tuanya. Dan tidak lama ia pun lulus dari SGO Magelang.
Setelah lulus dari SGO Magelang, Suwignyo kemabli ke rumah orang tuanya. Dan tidak lama ia langsung bekerja menjadi guru olahraga. Ia sangat bersyukur dengan pekerjaan yang ia tekuni saat itu. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik dan dengan sepenuh hati.
Pada tahun 1992 Suwignyo bertemu dengan tambatan hatinya yang bernama Laela Mucharomah. Setelag satu tahun mereka saling mengenal akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan langsung dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Risa Diah Palupi. Namun, mereka belum puas kerena hanya memiliki satu orang anak. Setelah enam tahun mereka menunggu, akhirnya mereka dikaruniai anak ke dua yang bernama Rani Wiboningrum.
Pada saat usia sang anak masih sangat kecil, Suwignyo memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Universitas Terbuka Semarang. Dan ia lulus pada tahun 2005. Di Universitas Terbuka Semarang ia hanya menempuh pendidika sampai D2. Karena tuntutan dari pekerjaannya ia pun melanjutkan pendidikannya ke UTP Sutakarta. Dan lulus pada tqhun 2010. Disana ia berhasil menyekesaikan pendidikan S1. Di UTP semarang ia berhasil menyusun sekripsi yang berjudul “ Hubungan Panjang Tungkai, Persepsi Kinestetik, dan Kelincahan Menendang Bola dalam Permainan Sepak Bola pada Siawa “.
Sudah sepantasnya kita sebagi generasi muda harus mencontoh semangat Suwignyo. Semangat dan kemaunyannya yang sagat besar telah mengantarnya menjadi orang yang berhasil dalam kehidupannya sekarang. Keberhasilan yang Suwignyo dapatkan saat ini merupakan hasil kerja kerasnya selama ini.
Semoga dengan apa yang telah dilakukannya, para generasi muda dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik lagi untuk masa depan yang lebih cerah.


