Minggu, 04 Juni 2017

Teks biografi

Teks Biografi
Suwignyo


          Suwignyo dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana. Ia lahir di Temanggung pada tanggal 15 Desember 1961. Dia merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Suwignyo dilahirkan dari pasangan Suprapto dan Mujirah.
           Sejak kecil, Suwignyo sudah menyukai berbagai jenis olahraga, seperti sepak bola, bola voli, dan olahraga yang lainnya. Kedua orang tuanya sudah menyadari bakat sang anak. Namun, bakat Suwignyo tersebut tidak disalurkan sesuai dengan keinginannya.
            Setalah berusia tujuh tahun,Suwignyo mendapatkan pendidikan formal dari Sekolah Dasar 1 Tuksongo.Disana ia mulai menekuni berbagai jenis olahraga. Karena kegemarannya terhadap berbagi jenis olahraga, ia sering ditunjuk untuk mewakili sekokahnya dalam kejuaraan olahraga. Pada saat itu, ia sering mendapatkan piala dan sertifikat kejuaraan.
        Dengan setifikat kejuaraan yang ia dapatkan selama masih duduk di Sekokah Dasar, akhirnya ia dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebig tinggi. Suwignyo memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke SMPN 1 Temanggung. Di bangku SMP, ia juga menekuni olahraga sepak bola. Selain itu, ia juga sering mewakilk sekolahnya dalan kejuaraan olahraga. Namun, masuk ke kekas sembilan, ia sudah tidak lagi mewakili sekokahnya dakam kejuaraan olahraga karena ingin fokus belajar untuk menghadapi Ujian Nasional. Ia hanya sesekali saja bermain sepak bola. Kemudian tidak lama ia lulus dari SMP.
          Setelah lulus dari SMPN 1 Temanggung, ia menginginkan bersekokah di SGO magelang, yang sekarang dikenal dengan SMAN 5 Magelang. Namun, keluarganya tidak memberi izin kepada Suwignyo untuk melanjutkan pendidikan di SGO Magelang karena jauh dari rumahnya yang sekarang. Alasan lain mengapa orang tuanya melarang Suwignyo malanjutkan pendidikan ke Magelang yaitu orang tuanya sangat khawatir apabila Suwignyo tidak ada yang memantau perkembangan dan perilakunya. Namun, Suwignyo tetap selalu memohon kepada Allah SWT supaya kedua orang tuanya mau memberikan izin kepadanya. Akhirnya kedua orang tuanya menginzinkan Suwignyo untuk melanjutkan pendidikannya ke SGO Magelang.
        Di Magelang Suwignyo tinggal bersama tantenya yang berada di daerah Karet. Ia ingngin membuktikan dengan orang tuanya bahwa ia dapat hidup mandiri tanpa bergantung pada kedua orang tuanya. Dan tidak lama ia pun lulus dari SGO Magelang.
        Setelah lulus dari SGO Magelang, Suwignyo kemabli ke rumah orang tuanya. Dan tidak lama ia langsung bekerja menjadi guru olahraga. Ia sangat bersyukur dengan pekerjaan yang ia tekuni saat itu. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan baik dan dengan sepenuh hati.
      Pada tahun 1992 Suwignyo bertemu dengan tambatan hatinya yang bernama Laela Mucharomah. Setelag satu tahun mereka saling mengenal akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan langsung dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Risa Diah Palupi. Namun, mereka belum puas kerena hanya memiliki satu orang anak. Setelah enam tahun mereka menunggu, akhirnya mereka dikaruniai anak ke dua yang bernama Rani Wiboningrum.
          Pada saat usia sang anak masih sangat kecil, Suwignyo memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke Universitas Terbuka Semarang. Dan ia lulus pada tahun 2005. Di Universitas Terbuka Semarang ia hanya menempuh pendidika sampai D2. Karena tuntutan dari pekerjaannya ia pun melanjutkan pendidikannya ke UTP Sutakarta. Dan lulus pada tqhun 2010. Disana ia berhasil menyekesaikan pendidikan S1. Di UTP semarang ia berhasil menyusun sekripsi yang berjudul “ Hubungan Panjang Tungkai, Persepsi Kinestetik, dan Kelincahan Menendang Bola dalam Permainan Sepak Bola pada Siawa “.
       Sudah sepantasnya kita sebagi generasi muda harus mencontoh semangat Suwignyo. Semangat dan kemaunyannya yang sagat besar telah mengantarnya menjadi orang yang berhasil dalam kehidupannya sekarang. Keberhasilan yang Suwignyo dapatkan saat ini merupakan hasil kerja kerasnya selama ini.
       Semoga dengan apa yang telah dilakukannya, para generasi muda dapat memperoleh pendidikan yang lebih baik lagi untuk masa depan yang lebih cerah.

Minggu, 02 April 2017

Laporan PLS SMA N 2 Magelanga

Laporan Perjalanan Pembelajaran Luar Sekolah (PLS) 
]SMA N 2 Magelang tahun 2017
 (oleh Rani Wiboningrum)


Kamis, 2 Februari 2017 SMA N 2 Magelang melaksanakan kegiatan Pembelajaran Luar Sekolah atau PLS menuju ke berbagai tempat, yaitu Museum Purbakala Sangiran dan pantai baron. Kami dibagi menjadi 6 bus yang didampingi oleh guru dan tidak lupa dengan pemandu wisata dari Jayakarta Tour.
Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan taunan SMA N 2 Magelang untuk menambah pengalaman siswa-siswinya dalam bidang kehidupan di zaman putbakala
 Kami berkumpul di SMA N 2 Magelang sebelum pukul 06.30 dan kami berangkat pukul 07.00. Sebelum kami berangakat menuju tempat tujuan kami berdoa terlebih dahulu. Setelah itu, kami langsung menepuh perjalanan menuju ke Museun Purbakala Sangiran. Kami menikmati perjalanan hinga sampai ke tujuan kami yang pertama.
Tujuan kami yang pertama yaitu Museum Purbakala Sangiran. Kami sampai disana sekitar pukul 11.00. Ketika sampai disana kami langsung menyusuri ruangan demi ruangan untuk melihat koleksi-koleksi yang ada di situs Sangiran. Sambil menyusuri ruangan demi ruangan kami dijelaskan tentang isi dari museum tersebut. Selain itu, kami juga dijelaskan tentang sejarah Situs Purbakala Sangiran.
Di sana kami mengamati perbedaan bentuk tubuh manusia purba dengan manusia sekarang, alat yang digunakan pada masa zaman purba, kehidupan di masa zaman purba, pendapat para ahli mengenai manusia purba, dan hal-hal mengenai manusia purba. Selain manusia purba di sana terdapat fosil-fosil hewan yang hidup di zaman purba. Setelah selesai dengan mengamati yang ada di sangiran.


Museum Purbakala Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo). Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi objek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.
Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecanthropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.
Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan.
Sejarah singkat tentang Situs Purbakala Sangiran dimulai tahun 1893, ketika untuk pertana kalinya situs ini didatangi oleh peneliti Eugene Dubois. Pada tahun 1932 L.J.C. van Es melakukan pemetaan secara geologis di Sangiran dan sekitarnya. Petaninilah yang kemudian digunakan oleh G.H.R. von Koeningswald pada tahun 1934 untuk melakukan survei eksploratif dengan temuan beberapa artefak prasejarah. Fosil-fosil hominid mulai ditemukan pada tahun 1936 hingga tahun 1941 Koeningswald telah menemukan sejumlah fosil Homo erectus.
Setelah selesai menyusuri ruangan demi ruangan, kami langsung menujunke ruang audio visual untuk melihat video tentang sejarah Situs Purbakala Sangiran. Ruang audio visual menjadi ruangan terakhir. Kemudian kami langsung kembalj ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke museum Kars Pracimantoro. Namun, dikarenakan sudah terlalu sore, Museum Kars Pracimantoro pun sudah tutup dan terpaksa kami beralih ke pantai baron. Sambil perjalanan menuju ke pantai baron, kami dibagikan nasi kotak untuk makan siang.Setelah  itu kami melaksanakan salat dhuhur dan asar. Setelah sumua kembali ke bus masing-masing ,kami melanjutkan perjalana ke oantai baron.
Setelah sampai di pantai baron kami langsung menikmati pemandangan yang sangat indah. Kami menikmati pemandangan tersebut dengan berfoto. Ada juga siswa yang menaiki menara. Mereka ingin melihat matahari terbenam. Ada juga yang memikmati pemandangan dengan cara bermain sepak bola. Kami sangat menikmati suasana yang ada. Kami tidak ingin melewatkan pemandangan yang sangat indah, lalu kami pun memutuskan untuk berfoto satu kelas dan kemudian dicetak.
Setelah puas kami menikmati pemandangan yang ada, kami kembali ke bus untuk menuju ke rumah makan. Setelah sampai di rumah makan, kami dihidangkan makanan dengan menu lalapan. Setelah menikamati menu yang ada kami langsung kembali menempuh perjalanan kw rumah masing-masing.
(Oleh Rani Wiboningrum)
Kamis, 2 Februari 2017 SMA N 2 Magelang melaksanakan kegiatan Pembelajaran Luar Sekolah atau PLS menuju ke berbagai tempat, yaitu Museum Purbakala Sangiran dan pantai baron. Kami dibagi menjadi 6 bus yang didampingi oleh guru dan tidak lupa dengan pemandu wisata dari Jayakarta Tour.
Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan taunan SMA N 2 Magelang untuk menambah pengalaman siswa-siswinya dalam bidang kehidupan di zaman putbakala
 Kami berkumpul di SMA N 2 Magelang sebelum pukul 06.30 dan kami berangkat pukul 07.00. Sebelum kami berangakat menuju tempat tujuan kami berdoa terlebih dahulu. Setelah itu, kami langsung menepuh perjalanan menuju ke Museun Purbakala Sangiran. Kami menikmati perjalanan hinga sampai ke tujuan kami yang pertama.
Tujuan kami yang pertama yaitu Museum Purbakala Sangiran. Kami sampai disana sekitar pukul 11.00. Ketika sampai disana kami langsung menyusuri ruangan demi ruangan untuk melihat koleksi-koleksi yang ada di situs Sangiran. Sambil menyusuri ruangan demi ruangan kami dijelaskan tentang isi dari museum tersebut. Selain itu, kami juga dijelaskan tentang sejarah Situs Purbakala Sangiran.
Di sana kami mengamati perbedaan bentuk tubuh manusia purba dengan manusia sekarang, alat yang digunakan pada masa zaman purba, kehidupan di masa zaman purba, pendapat para ahli mengenai manusia purba, dan hal-hal mengenai manusia purba. Selain manusia purba di sana terdapat fosil-fosil hewan yang hidup di zaman purba. Setelah selesai dengan mengamati yang ada di sangiran.


Museum Purbakala Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo). Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi objek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.
Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecanthropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.
Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan.
Sejarah singkat tentang Situs Purbakala Sangiran dimulai tahun 1893, ketika untuk pertana kalinya situs ini didatangi oleh peneliti Eugene Dubois. Pada tahun 1932 L.J.C. van Es melakukan pemetaan secara geologis di Sangiran dan sekitarnya. Petaninilah yang kemudian digunakan oleh G.H.R. von Koeningswald pada tahun 1934 untuk melakukan survei eksploratif dengan temuan beberapa artefak prasejarah. Fosil-fosil hominid mulai ditemukan pada tahun 1936 hingga tahun 1941 Koeningswald telah menemukan sejumlah fosil Homo erectus.
Setelah selesai menyusuri ruangan demi ruangan, kami langsung menujunke ruang audio visual untuk melihat video tentang sejarah Situs Purbakala Sangiran. Ruang audio visual menjadi ruangan terakhir.

Kemudian kami langsung kembalj ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke museum Kars Pracimantoro. Namun, dikarenakan sudah terlalu sore, Museum Kars Pracimantoro pun sudah tutup dan terpaksa kami beralih ke pantai baron. Sambil perjalanan menuju ke pantai baron, kami dibagikan nasi kotak untuk makan siang.Setelah  itu kami melaksanakan salat dhuhur dan asar. Setelah sumua kembali ke bus masing-masing ,kami melanjutkan perjalana ke oantai baron.
Setelah sampai di pantai baron kami langsung menikmati pemandangan yang sangat indah. Kami menikmati pemandangan tersebut dengan berfoto. Ada juga siswa yang menaiki menara. Mereka ingin melihat matahari terbenam. Ada juga yang memikmati pemandangan dengan cara bermain sepak bola. Kami sangat menikmati suasana yang ada. Kami tidak ingin melewatkan pemandangan yang sangat indah, lalu kami pun memutuskan untuk berfoto satu kelas dan kemudian dicetak.
Setelah puas kami menikmati pemandangan yang ada, kami kembali ke bus untuk menuju ke rumah makan. Setelah sampai di rumah makan, kami dihidangkan makanan dengan menu lalapan. Setelah menikamati menu yang ada kami langsung kembali menempuh perjalanan kw rumah masing-masing.